GuidePedia

0


Oleh : Abu Zain Wafi

Dalam menyikapi problem yang dialami para penghafal al-Quran yang mana banyak dari mereka mengeluhkan tentang sulitnya menghafal. Menyikapi masalah itu maka perlu kiranya untuk mengetahui kendala-kendala yang menyebabkan lemahnya hafalan kita sehingga tidak ada lagi keluh kesah yang menyebabkan semakin susahnya kita menghafal bahkan sampai pada tingkat tidak mau lagi menghafal wal’iyadzu billah. 

Diantara kendala yang sangat perpengaruh pada kemampuan menghafal adalah dengan tidak memberdayakan akhlaqulkarimah dalam kehidupan sehari-hari.  Disisi lain harus kita faham bahwa kemampuan menghafal akan berbeda antara satu dengan yang lain tergantung dari IQ masing-masing penghafal al-Quran. Akan tetapi dalam berinteraksi dengan Al-Quran, kebaikan akhlaklah yang menjadi tolak ukur dari kwalitas hafalan bukan dari banyak atau sedikitnya hafalan yang telah disetorkan. Sehingga sebagai penghafal al-Quran harus betul-betul memperhatikan rambu-rambu ini agar bisa menjauhkan diri dari akhlaq yang tecela. 

Diantara akibat buruk akhlak tecela bagi para penghafal al-Quran adalah:

Pertama: Akhlak tercela maupun pelakunya keduanya sama-sama dibenci oleh Allah.

Imam Ath Thabrani dalam Al Ausath, Ibnu Asakir dengan sanad yang shahih, yang dijelaskan keshahihannya oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih al Jami’ dan Silsilah Ahadits Ash Shahihah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan dan mencintai ketinggian akhlak serta membenci keburukan akhlak”. Begitu buruknya akhlaq tercela itu sampai-sampai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa:

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَيَهدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أنْتَ وَاصْرِفْ عَنَّي سَيِّئَهَا لاَيَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah tunjukkanlah aku untuk berhias dengan akhlak yang terbaik karena tidak ada yang bisa menunjukkan kami kepada hal itu kecuali Engkau, dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk dan tidak ada yang bisa menjauhkan aku darinya kecuali Engkau”

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam At Tirmidzi dengan sanad yang shahih beliau juga memanjatkan doa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَراَ تِ الأَخْلَاقْ وَالأَعْماَلْ وَالأَهْواء وَالأَدْواءِ

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbagai kemungkaran akhlak,  amal perbuatan yang mungkar, hawa nafsu, dan segala macam penyakit”

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak karena memang  keburukan akhlak adalah sesuatu yang sangat merugikan. Bagaiman Allah ridlo kepada kita sementara kita masih menjadi pribadi yang Allah benci. Bagaimana kita bisa meraih barokah dari setiap kalimat al-Quran yang kita hafalkan, sementara dalam diri kita masih ada sifat yang orang disekitar kita pun dapat merasakan dampak buruknya. Maka dengan memberdayakan akhlaq yang baik maka insyaAllah para penghafal al-Quran akan memperoleh rohmat, barokah, ridlo dan ampunan dari Allah.

Kedua: Kerugian akhlak tercela adalah terhapusnya amal-amal yang telah kita kumpulkan.

Amal yang telah bertumpuk-tumpuk akan terhapus bahkan bisa berbuah dosa. Apabila akhlaq yang baik dapat menambah pahala dan menggugurkan dosa maka akhlak tercela dapat mengurangi bahkan menghapus pahala dan menambah dosa. Sehingga di akherat nanti pahalanya habis dan dosanya bertambah besar. 

Dalam kondisi ini maka bukan kebahagiaan yang dirasakan tetapi kegundahan, keluh kesah, malas dan angan-angan yang takpernah terwujud. Inilah yang termasuk bagian dari orang muflis (bangkrut)

Dalam hadits disebutkan:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَتَدْرُوْنَ مَا المُفْلِسُ ؟ قَالُوْا المُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَمَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسِ مِنْ أُمَّتِي يَأْ تِي يَومَ القِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامِ وَزَكَاةِ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخَطَايَا هُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian apa yang disebut dengan orang yang bangkrut?”, mereka (para shahabat) berkata, “Orang bangkrut yang ada diantara kami adalah orang yang tidak ada dirhamnya dan tidak memiliki barang”. Rasulullah berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Dia datang dan telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan. Jika kebaikan-kebaikan telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah ia dzolimi) kemudian dipikulkan kepadanya lalu ia pun dilemparkan ke neraka” [HR. Muslim IV/1997 no.2581)

Semua orang akan menganggap bahwa orang muflis (bangkrut) adalah orang yang tidak mempunyai harta atau orang yang gagal dalam usaha. Bahkan para sahabat ketika ditanya oleh Rasulullah mereka menjawab dengan jawaban yang sama.

Oleh karena itu untuk para penghafal al-Quran, apakah rela apabila setiap usaha dan jerih payah dalam menghafal hilang begitu saja....?. Bagaimana sekiranya amal shaleh yang semestinya merupakan modal untuk meraih kebahagiaan di akherat menjadi habis....?. 
Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:

وَ إنّ سُوءَالخُلُقِ يُفسِدُ العَمَلَ كَماَ يُفسِدُ الخَلُّ العَسَلَ

“Dan sesungguhnya akhlak tercela merusak amal sholeh sebagaimana cuka merusak madu”  (HR Thabrani. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Shahihah no 907)

Ketiga: Hilangnya jati diri sebagai ahli Al-Quran.

Sejatinya para penghafal al-Quran harus mampu berusaha dan mengamalkan kandungan al-Quran sehingga menjadi manusia yang berjiwa al-Quran. Namun apa jadinya ketika harapan itu tidak menjadi kenyataan bahkan jauh dari harapan nyata dikarenakan ketika menghafal al-Quran tidak bisa menjadikannya perisai yang sejatinya adalah jati diri bagi para penghafal al-Quran.

Ketika kita melihat kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jelas sekali bahwa keberhasilan beliau dalam mendidik para sahabat dan mencetak mereka menjadi generasi terbaik adalah karena beliau dibimbing langsung oleh Allah melalui panduan kalam-Nya al-Quran al-Karim. Inilah point penting yang harus di ingat oleh para penghafal al-Quran yaitu mempertahankan jati dirinya dengan al-Quran.

Dalam kitab al-arba’una haditsan fi al-akhlaq Dr. Ahmad Mu’adz Haqqy menyebtkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim, bahwa Aisyah rodliyallahu ‘anha pernah ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam bin Amir radliyallahu ‘anhu tentang akhlaq Rasulullah

يَا أم المُؤْمِنِيْنَ، أَنْبِئْنِيْ عَنْ خُلُقِ رَسُوْلِ الله، قَالَتْ: أَلَسْتَ تَقْرَأُ القُرْآنَ؟ قُلْتُ: بَلَى. قَالَتْ: فَإن خُلُقَ نبي الله كانَ القُرْآنَ

Wahai ummil mukminin, kabarkan kepadaku tentang akhlak Rasulullah, Aisyah berkata : Bukankah engkau telah membaca al-Quran ? maka aku (Sa’ad bin Hisyam bin Amir) menjawab : Ya. Maka Aisyah berkata : sesungguhnya akhlak nabi Allah adalah al-Quran. (HR.Muslim)

Imam an-Nawawi ketika menjelaskan tentang hadits di atas adalah dengan mengamalkan al-Quran, diam tidak mengeluh terhadap batasan-batasan yang ada di dalam al-Quran, beradab dengan al-Quran, mengambil pelajaran dari setiap contoh dan kisah-kisah yang ada di dalamnya, mentadabburinya dan membaguskan bacaannya.

Oleh karena itu ketika al-Quran hanya sekedar dibaca dan dihafalkan tanpa aplikasi yang jelas, apalagi hanya sekedar komersial untuk mendapat keuntungan duniawi, maka ini jelas menandakan bahwa sang penghafal tidak memiliki jiwa al-Quran yang seharusnya menjadi jati diri sebagai ahlu al-Quran.

Inilah beberapa dampak buruk dari akhlaq tercela bagi penghafal al-Quran. Kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar selalu diberikan keistiqomahan dan keikhlasan dalam amal ibadah sehingga bisa mewujudkan impian kita hidup dibawah naungan ridlo Allah

با لله التوفيق والهداية

Posting Komentar

 
Top